Di Babel, Kebhinekaan itu Sudah Lama Ada, Tongin, Fang In, Jit Jong Tak Cuma Slogan

Minggu, 18 Februari 2018 - Kategori Berita - Dibaca 464 kali

Di Babel, Kebhinekaan itu Sudah Lama Ada, Tongin, Fang In, Jit Jong Tak Cuma Slogan

Pangkalpinang- TAHUN BARU IMLEK atau Sin Cia dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa yang ada di Dunia. Tahun 2018, ini Imlek jatuh pada tanggal 16 Februari. Imlek memiliki hakikat rasa syukur dan harapan baru yang lebih baik. Warga Tionghoa mendatangi Kelenteng untuk sembahyang memanjatkan doa agar diberi kehidupan lebih baik pada masa mendatang. Setelah itu kegembiraan diwujudkan dalam silaturahmi bersama keluarga, kerabat, sahabat, teman dan relasi.
Sementara untuk ibadah Imlek, setidaknya 800 paket hio sudah disiapkan oleh pengurus kelenteng. Satu paket ada 13 batang hio. Ini sesuai dengan 13 altar yang ada di Kelenteng. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, berkisar 800 hingga 1000 hio," kata Rohaniawan Kelenteng KTM, Taufik Salim.
Dikatakan Taufik, hakikat Imlek adalah rasa syukur, harapan baru dan berbagi rezeki. Karena itulah Imlek diawali dengan sembayang tutup tahun di Kelenteng dan dilajutkan sembahyang di rumah masing-masing pada pagi harinya.
Imlek, saat ini tidak hanya menjadi milik warga Tionghoa. Imlek sudah menjadi bagian dari Indonesia. Apalagi di Bangka Belitung, warga etnis lain juga ikut merayakan suka cita Imlek. "Tradisi saling mengunjungi merupakan bukti bahwa Imlek menyatukan seluruh warga," ujarnya
Imlek bagi Taufik, sudah menjadi milik warga Babel. Setiap orang akan merayakan secara bersama tahun baru ini. Tidak hanya milik sebagian orang. "Seperti lebaran Idul Fitri, Imlek juga membuka pintu untuk berbagi suka cita," ujarnya.
Salah satu warga Tionghoa muslim, Hongky Lestiadhi, misalnya, menyatakan perayaan Imlek di Babel tidak lagi ekslusif menjadi milik warga Tionghoa saja. Sudah sangat terbuka dalam wujudan silaturrahmi. Ini terlihat dari tradisi saling mengunjugi antar etnis yang ada. Masyarakat menyambut gembira suka cita Imlek dalam persaudaraan.
Sedikit menengok ke belakang, menurut Hongky, orang Tionghoa datang ke Bangka sekitar abad 19 M. Mereka yang datang adalah kaum laki-laki dan akan bekerja di penambangan timah. Karena itulah akhirnya menikah dengan pribumi Bangka. Bahkan juga ada yang menikah dengan pribumi Jawa. Sehingga membuat persaudaraan antara Tionghoa dan pribumi Bangka menjadi lebih erat.
Senada, tokoh Tionghoa Pangkalpinang, Djohan Ridwan Hasan mengatakan bahwa Imlek adalah berbagi kebahagiaan. Mengajak handai tolan untuk bersuka cita. Apalagi di Babel, akulturasi lebih kental, karena warga di Babel memiliki pertalian saudara.
Diceritakan Ko Aping–sapaan akrab Djohan Ridwan Hasan- pernikahan laki-laki Tionghoa dengan perempuan pribumi Bangka menghasilkan persaudaraan. Tidak ada lagi sekat antara warga Tionghoa dengan pribumi seperti yang terjadi di daerah lain. "Inilah ciri khas dan keunikan yang ada di Babel," katanya
Kekhasan ini, Lajut Aping, dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata. Ini mengingat perayaan Imlek di Babel memiliki keunikan, yakni pembauran. "Tinggal bagaimana mengemasnya saja agar dapat menjadi sebuah daya pikat pariwisata," ujar Aping yang juga merupakan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Babel.
Akulturasi yang sudah terpelihara ini hingga muncul istilah, Tongin, Fang In, Jit Jong, atau Tionghoa-Melayu Sama dan bersaudara. Ketika Idul Fitri datang, maka kalangan etnis Tionghoa, muslim maupun nonmuslim, akan berbondong-bondong mengunjungi kerabat muslim yang merayakan lebaran. Begitu sebaliknya ketika Imlek tiba, maka warga Tionghoa akan menyambut kunjungan dengan pintu terbuka lebar.
Sementara itu, Sejarawan Babel, Akhmad Elvian mengatakan, tradisi Imlek akulturasi memang sudah tercipta di Babel. Seperti kuliner warga Tionghoa yang sudah menjadi hidangan milik semua orang. Bakmi yang dulunya menggunakan kuah daging babi, saat ini sudah dinikmati dengan kuah ikan atau udang. Kemudian ada pantiau atau makanan setengah berat, dan bong li fiang atau kue nanas.
"Banyak hal yang diserap dari tradisi perayaan imlek. Mulai dari kunjung mengunjungi atau silaturrahmi hingga merayakan lebaran lebih lama seperti perayaan Imlek hingga tanggal 15 bulan pertama penanggalan Cina atau yang lebih dikenal Cap Go Meh," tukas mantan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang ini.
Berbaurnya masyarakat Pangkalpinang menurut Elvian sesuatu hal yang luar biasa dan perlu dipelihara agar persatuan bangsa dapat terjaga. Ia berharap kondisi ini terus terjaga dan terpelihara.
Nuansa perayaan Imlek sendiri sebenarnya sudah terasa sejak pertengahan Januari lalu. Pernak-pernik Imlek seperti lampion sudah menghiasi pusat perbelanjaan. Bahkan atraksi barongsai sendiri sudah tampil di Ramayana sejak 4 Februari lalu. Beragam aksesoris Imlek juga sudah terpajang di beberapa toko. Seperti peralatan sembahyang, lampion hingga kembang mehwa dan lilin. Tak ketiggalan berbagai aneka kue yang disediakan untuk menyambut hari raya Imlek, seperti kue keranjang.
Ditambahkan pengamat sosial dan penulis Buku, Ahmadi Sopian, pascareformasi, terutama beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Tionghoa di Bangka Belitung lebih meriah dalam merayakan berbagai perayaan hari besar masyarakat Tionghoa, terutama Imlek. Apalagi dalam 5 tahun terakhir ini, masyarakat Melayu semakin turut serta, ikut berperan besar dalam meramaikannya dan pemerintah daerah pun ikut andil.
Sebagaimana lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Muharram, Maulid Nabi, dan lain-lain, Imlek di Bangka Belitung pada 5 tahun terakhir ini sudah menjadi bagian dari tradisi milik masyarakat. Kalau dulu, Imlek lebih banyak dirayakan masyarakat perkotaan, tapi 5 tahun terakhir ini, masyarakat di kampung-kampung ramai berdatangan ke warga Tionghoa yang merayakan Imlek untuk bertamu atau silaturrahim. Karena begitupula dengan masyarakat Tionghoa pada perayaan hari hari besar Islam.
Makanan dan minuman yang disajikan seperti tak ada habisnya, sehingga kebersamaan dan saling menghormati tamu tak lagi memandang suku, ras dan agama. Kehidupan saling menghargai di Bangka Belitung semakin nampak kala antara Tionghoa dan Melayu saling bahu membahu dalam perayaan tersebut. Misalnya, pada bulan Ramadhan atau Idul Fitri, warga Tionghoa ramai menjajakan makanan/minuman untuk berbuka puasa atau menyiapkan kue lebaran. Begitupula saat Imlek, warga Melayu ikut membantu berbagai persiapan di rumah-rumah masyarakat Tionghoa guna merayakan Imlek.
Bahkan generasi muda di Bangka Belitung, dalam menyikapi perayaan Imlek sangat baik dan saling menghargai bahkan bersinergi. Semua ini tidak lepas dari kehidupan sehari-hari para pemuda di sini yang bersahabat antara pemuda Melayu dan pemuda Tionghoa. Persahabatan dengan satu organisasi, perkumpulan, komunitas, bisnis atau kawan ngobrol dan ngopi.
"Ini artinya masyarakat Bangka Belitung telah mewarisi nilai dan perilaku saling menghargai. Nilai-nilai Pancasila dan Bhennika Tunggal Ika dijadikan perilaku sehari-hari masyarakat Bangka Belitung, bukan hanya dijadikan slogan atau teriakan. Oleh karenanya, seringkali saya pribadi mengungkapkan bahwa Aset terbesar di Bangka Belitung bukan timah, bukan pula lada, bukan juga sawit, tidak pantai-pantai yang indah, tidak juga karet, tapi aset terbesarnya adalah Keharmonisan dan Kedamaian yang tercipta dari kedewasaan masyarakatnya dalam memaknai perbedaan," ucapnya.
Anggota DPD RI asal Babel, Bahar Buhasan yang juga merupakan Tionghoa mengatakan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak ragam suku, budaya, etnis, yang bersatu dalam bingkai NKRI. Begitu juga pada kehidupan bermasyarakat di Bangka Belitung yang telah terjalin sejak dahulu.
"Berbagai suku, budaya, etnis, dan umat beragama saling bahu membahu dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat termasuk dalam menjalankan berbagai aktivitas secara umum, masyarakat Provinsi Bangka Belitung telah tertanam semangat bekerja sama dan semangat bersama dalam menjalankan hidup," kata Bahar.
Implementasi kehidupan bermasyarakat Bangka Belitung ini selaras dalam menjunjung Kebhinnekaan. Salah satu hal yang tampak adalah ketika pelaksanaan dan perayaan hari raya keagamaan. Dalam Hari Raya Idul Fitri sebagai contoh, masyarakat non-muslim pun tak segan bersama memeriahkan perayaan Hari Raya umat muslim tersebut. Tidak hanya pada saat perayaannya, dalam persiapannya pun seperti membuat kue, masyarakat membuatnya bersama-sama. "Pada saat perayaan Hari Natal contoh lainnya, masyarakat juga bersama-sama bahu membahu dalam menjaga kerukunan dan kedamaian dalam rangka merayakan hari raya umat kristiani tersebut," tukas Bahar.
Dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2569 pun, masyarakat di Bangka Belitung kata Bahar, tidak kalah semangatnya dalam bahu-membahu bergotong-royong dalam rangka bersama-sama memeriahkannya.
"Inilah semangat menjaga kesatuan dalam pluralisme yang harus dibangun untuk seluruh masyarakat Indonesia, di mana perbedaan yang ada merupakan sebuah anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada kita dan dapat bersama-sama gotong-royong membangun Indonesia menjadi semakin lebih baik pada umumnya dan khususnya Bangka Belitung yang merupakan miniatur pluralisme dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Bahar.
Jutaan doa, jutaan harapan kebaikan terus dipanjatkan, kegembiraan dan keceriaan imlek masih terus berlangsung, kue-kue di meja masih terhidang, lampion masih terang benderang, tamu-tamu masih terus berdatangan ke rumah-rumah, semoga imlek membawa keberkahan.

Baca Juga Di >>Babelpos.co<<

Berikan komentar

Anda memberi komentar sebagai pengunjung.

Captcha Image

Pusat Informasi Wisata Kota Pangkalpinang

PUSAT INFORMASI WISATA & GALERI SENI

  • Gedung Bubung Tiga, Jalan Rasakunda, Kelurahan Sriwijaya, 

          Kecamatan Girimaya,Kota Pangkalpinang, Propinsi Kepulauan

          Bangka Belitung Indonesia

  • Telepon : +62 (0717) 437323, 439175
  • Faks: +62 (0717) 439175
  • E-mail:

PUSAT INFORMASI WISATA PANTAI PASIR PADI

  • Jalan Raya Pasir Padi, Kelurahan Temberan, Kecamatan Bukit Intan,
    Kota Pangkalpinang, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
    Indonesia

PUSAT INFORMASI  WISATA BANDARA DEPATI AMIR

  • Ruang Kedatangan Bandara Depati Amir Angkasa Pura II

          Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Indonesia


 PUSAT INFORMASI  WISATA & GALERI DEKRANASDA
  • Kawasan Civic Centre, Jalan Merdeka Pangkalpinang

Peta Pangkalpinang

frontpage-map

Tautan Resmi

NANvJB_N1jVUNq82czkP9kpWTiPLv6IexbmDZvTQtVo